PENANGGULANGAN MAKANAN JAJANAN YANG MENGANDUNG FORMALIN DI ACEH

Penulis: Cut Raihanah

I. LATAR BELAKANG

Formalin saat ini telah menjadi suatu fenomena yang menarik. Bagaimana tidak, hampir setiap hari baik di media cetak maupun elektronik masyarakat Aceh disuguhi dengan isu tentang penyalahgunaan zat kimia berbahaya tersebut.

Kehawatiran masyarakat akan bahaya formalin ini memang cukup beralasan, karena formalin termasuk bahan kimia beracun serta dilarang penggunaannya sebagai bahan tambahan makanan (additive food).

Formalin menurut Kamus Istilah Matematika dan IPA (1985) berasal dari gugus aldehida atau tepatnya dari senyawa formaldehida yang merupakan gas yang berbau merangsang dan mudah larut dalam air dengan rumus kimia CH2O. Senyawa ini bila dilarutkan dalam air dengan kadar 40% dikenal sebagai formalin yang sering digunakan sebagai zat pencuci hama dan pengawet.

Awalnya formalin ini hanya digunakan sebatas untuk kepentingan laboratorium terutama untuk bahan pengawetan hewan dan tumbuhan dalam skala lab disamping sering digunakan untuk pengawetan mayat. Namun kini para produsen makanan di Aceh menggunakan formalin sebagai zat aditif, yaitu suatu zat yang sengaja ditambahkan pada makanan dengan maksud untuk mengawetkan dan membuat kenyal berbagai macam produk mereka, terutama pada produk yang dihasilkan oleh industri rumah tangga dikarenakan mereka tidak terdaftar dan tidak terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hal ini bisa terjadi di Aceh? Apa alasan para produsen makanan menggunakan zat kimia berbahaya ini kedalam produk mereka? Sebagaimana kita ketahui penambahan formalin dalam makanan ditujukan dengan maksud agar makanan yang dihasilkan bisa bertahan lama. Tahu, bakso dan mie basah bila tidak ditambahkan pengawet hanya bisa bertahan paling lama sampai 40 jam atau 2 hari, sementara kalau makanan tersebut ditambahkan pengawet bisa bertahan cukup lama atau awet hingga 3 atau 4 hari. Jadi secara ekonomi akan menguntungkan, karena bila dalam waktu 2 hari tidak laku terjual, makanan tersebut masih bisa bertahan. Sementara pihak konsumen yang masih belum bisa mengenali dengan pasti produk makanan mana yang mengandung formalin cenderung berperilaku asal pilih dalam membeli, apalagi bila tergiur dengan harganya yang murah maka mereka tidak lagi mengindahkan segi kualitas dari makanan tersebut. Hal inilah yang menjadi faktor utama masih banyaknya penggunaan formalin dalam berbagai produk makanan di Aceh. Sementara alasan para produsen memilih formalin sebagai bahan pengawet makanan adalah karena selain bisa membuat awet juga bisa membuat makanan tersebut lebih kenyal dan tidak lembek. Harganya yang lebih murah dan penggunaannya yang lebih praktis dibandingkan dengan bahan pengawet yang lainnya menjadi penyebab para produsen lebih tertarik menggunakan bahan kimia yang satu ini.


 

II. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT

Formalin merupakan bahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan tubuh. Dilihat dari struktur kimianya, formalin memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, sehingga di dalam tubuh manusia formalin akan menyerang organ tubuh yang banyak mengandung protein, seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.

Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbul antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian.

Mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin memang tidak akan menimbulkan efek dalam waktu yang singkat karena kadar formalin yang biasa digunakan dalam makanan cenderung rendah. Namun, apabila makanan berformalin tersebut terus menerus dikonsumsi, tanpa disadari manusia telah menumpuk zat berbahaya tersebut di dalam tubuhnya yang dapat menjadi bibit pencetus berbagai macam penyakit seperti infeksi ginjal, kanker, kecerdasan anak dan penyakit degeneratif lainnya.

 

III. STRATEGI (UPAYA) PROMOSI KESEHATAN

Usaha yang paling mendasar yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penggunaan formalin dalam makanan di Aceh adalah dengan memberdayakan masyarakat selaku sasaran primer dari promosi kesehatan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara kegiatan penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk mendidik masyarakat Aceh agar tidak memproduksi dan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tersebut. Materi yang diberikan dalam kegiatan penyuluhan ini dapat berupa informasi mengenai bahaya penggunaaan formalin bagi kesehatan masyarakat, cara mengenali produk makanan yang mengandung formalin, manfaat yang dapat dirasakan konsumen dari berperilaku memilih makanan sesuai dengan kualitasnya, bukan dari harga dan penampilan luarnya saja, serta keuntungan yang dapat diperoleh produsen yang memproduksi makanan tanpa formalin (seperti reputasi industrinya di mata masyarakat). Pengetahuan ini diberikan dengan harapan agar masyarakat Aceh tau dan mampu mengubah perilaku buruknya.

Selain usaha pemberdayaan masyarakat dari segi pengetahuan yang dilakukan melalui penyuluhan, usaha pemberdayaan masyarakat dari segi sarana dan prasarana pun dapat dilakukan yaitu dengan menyediakan fasilitas yang dapat digunakan masyarakat untuk melaporkan kasus penggunaan formalin yang terjadi di sekitarnya. Fasilitas ini dapat berupa lembaga yang siap menampung aspirasi masyarakat mengenai penyalahgunaan formalin. Dengan demikian, antara masyarakat dan pemerintah akan terjalin kerja sama dalam mengatasi maraknya penggunaan formalin dalam makanan.

Meskipun pemberdayaan masyarakat dari segi pengetahuan dan fasilitas telah dilakukan, akan tetapi hal ini belum bisa menjamin penggunaan formalin dalam makanan di Aceh dapat teratasi sepenuhnya. Masyarakat Aceh yang telah dibina tersebut juga membutuhkan adanya dukungan dari pihak yang paling berpengaruh dalam kehidupan mereka, seperti tokoh agama (Imuem mesjid, Teungku-teungku) dan tokoh masyarakat (Tuha peut, Tuha lapan) yang dijadikan panutan dalam mengaplikasikan pengetahuan yang telah ada. Sebagai panutan masyarakat, sudah tentu tokoh-tokoh tersebut perlu dibimbing agar dapat mengajak masyarakat di daerahnya untuk senatiasa berpartisipasi dalam usaha pemerintah berupa program kesehatan mengenai penanggulangan penggunaan formalin dalam makanan. Sehingga diharapkan, masyarakat Aceh dapat menjaga kesehatannya dari bahaya formalin secara kondusif.

Namun, tidak seimbang sepertinya jika hanya pemerintah saja yang bekerja keras membina masyarakat dan tokoh-tokoh untuk mengatasi maraknya penggunaan formalin di Aceh. Masyarakat dan tokoh selaku pihak yang terlibat dan merasakan langsung dampak dari penggunaan formalin pun harus berperan aktif dalam mengatasi praktik penyalahgunaan formalin ini. Mereka dapat menghimbau pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat, seperti kebijakan mengenai pengawasan terhadap makanan sebelum dan setelah makanan tersebut beredar dipasaran. Sebelum beredar, makanan harus melalui proses registrasi dan standarisasi. Kemudian setelah makanan beredar dipasaran, mekanisme kontrol harus tetap berjalan. Jika makanan yang beredar tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan, maka makanan tersebut harus segera ditarik dari pasar dan baru boleh dijual lagi bila ada kepastian bebas formalin dari lembaga berwenang. Dengan demikian, makanan yang beredar di pasaran benar-benar terjamin kualitasnya bagi konsumen.

Selain menghimbau pemerintah untuk membuat kebijakan, masyarakat dan tokoh harus pula jeli dalam mengawasi pelaksanaan kebijakan dan peraturan yang telah dibuat tersebut, seperti UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyebutkan, produsen yang membahayakan konsumen dapat dikenai hukuman maksimal lima tahun atau ganti rugi maksimal 2 miliar rupiah. Jika peraturan ini dapat dijalankan dengan baik dan tegas, maka harapan masyarakat Aceh agar para produsen makanan selalu mengutamakan keselamatan konsumennya bisa terwujud.

 

IV. PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Formalin merupakan bahan kimia beracun serta dilarang penggunaannya sebagai bahan tambahan makanan (additive food).

2. Kurangnya pengetahuan masyarakat Aceh tentang bahaya formalin bagi kesehatan, keinginan para produsen makanan untuk meraih keuntungan tanpa mengindahkan kesehatan konsumennya, harga formalin yang murah dan praktis dalam penggunaannya, ciri-ciri produk makanan berformalin yang belum lazim diketahui masyarakat, serta perilaku konsumen yang kurang mengindahkan segi kualitas dalam memilih makanan menjadi penyebab maraknya kasus penggunaan formalin dalam produk makanan di Aceh.

3. Pemberdayaan masyarakat, dukungan sosial serta advokasi terhadap pemerintah dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah penyalahgunaan formalin oleh produsen makanan di Aceh.

 

B. SARAN

Dalam mengatasi maraknya kasus penggunaan formalin pada makanan di Aceh dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dari pemerintah sebaiknya lebih gencar lagi dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat Aceh mengenai bahaya formalin bagi kesehatan dan cara mengenali produk makanan yang mengandung formalin. Tidak hanya melalui penyuluhan, tetapi dapat juga menggunakan media yang menarik perhatian masyarakat Aceh untuk mengetahui informasi tersebut. Selain itu, pemerintah juga harus lebih ketat dalam mengawasi berbagai macam produk makanan yang beredar di pasaran serta lebih tegas dalam menindak pihak yang terbukti menyalahgunakan formalin. Sehingga mereka menjadi jera untuk menggunakan formalin lagi di dalam produknya.

Dari pihak masyarakat sebaiknya harus lebih jeli dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi, jangan mudah tergiur dengan produk makanan yang murah dan menarik. Disamping itu, untuk meringankan beban pemerintah dalam mengatasi kasus formalin, masyarakat sebaiknya berperan aktif dalam mengawasi para produsen makanan dan melaporkan kepada pihak berwajib apabila mengetahui produsen makanan tersebut sengaja menggunakan formalin sebagai pengawet produknya. Disamping itu, bagi produsen makanan terutama industri rumah tangga sebaiknya segera mendaftarkan usahanya pada Depkop UKM sehingga mudah untuk dipantau.

Untuk dampak yang lebih positif lagi, sebaiknya para ilmuwan kimia di Aceh dapat melakukan penelitian guna menemukan bahan pengawet makanan yang tidak berisiko bagi kesehatan manusia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang biayanya lebih murah dan kemampuannya pengawetnya sama seperti formalin. Dengan demikian, diharapkan penggunaan formalin dalam makanan di Aceh dapat benar-benar teratasi.

 

Daftar Pustaka

Anonim, Formalin Bukan Formalitas, www.ciptapangan.com, 2006.

Formazi, Formalin (Bahaya penggunaan formalin pada pangan), www.formazifkmuh.blogspot.com, 2009.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Depkes Rekomendasikan Pengawet Makanan Yang Sehat, www.depkes.go.id, 2006.

Nanang SH, M.Pd, Drs., Formalin (Menyoal Formalin Sebagai Bahan Kimia Berbahaya), www.nangasgar.blogspot.com, 2011.

Notoatmodjo, Soekidjo., Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Oktaviandi, Wahyu., dkk, Food and Agriculture, http://www.elisa1.ugm.ac.id, 2006.

Profil Fakultas Teknologi Pangan UNISRI SOLO, Jaminan Keamanan Makanan, www.ftpunisri.blogspot.com, 2007.

Santoso, Urip., Formalin Pada Makanan, http://www.uwityangyoyo.wordpress.com, 2009.

Susanti, Singkirkan Makanan Berformalin Dari Dapur Rumah, www.flobamor.com, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s