Sunday Morning [≠] Cool

Minggu pagi, sudah menjadi kebiasaanku sedari kecil untuk nongkrong di depan TV menyaksikan beberapa film kartun yang silih berganti tayang di hari libur itu. Ya, hari Minggu menjadi hari yang istimewa bagiku dan mungkin bagi teman-teman seumuranku yang ketika itu masih menyandang status sebagai pelajar karena di hari Minggu tidak harus berangkat ke sekolah dan diganti dengan kesibukan di depan TV (*HAH??Kesibukan??). Bahkan sangking betahnya aku menatap layar kaca itu, aktivitas sarapan pagi pun ku lakukan di depan TV. Santai kayak di pantai, seakan mampu menghilangkan kepenatan enam hari ke belakang yang penuh dengan rutinitas sekolah (*jadi balas dendam ini ceritanya :D). Hehehe..begitulah kira-kira. Maklum masih anak-anak. Lagipula jaman dulu film kartun anak-anak cuma tayangnya hari Minggu saja. Itu pun hanya dari pagi hingga menjelang siang. Jadi kalau tidak nonton di waktu itu, mau nonton kapan lagi? Beda dengan jaman sekarang, sepertinya setiap hari ada saja film kartunnya dari pagi, siang, sore dan malam.

Minggu pagi di hari itu juga sama menyenangkannya. Film kartun yang diputar sedari matahari belum terbit hingga menjelang pukul 08.00 tetap menarik untuk diikuti. Apalagi film kartun favoritku, Doraemon yang tayang sekitar 07.30 s/d 08.00. Kantong ajaib Doraemon selalu mengeluarkan alat-alat canggih di setiap episodenya. Pagi itu, suasana rumah dan aktivitasku tetap menyenangkan seperti hari Minggu biasanya. Sarapan tetap ku lakukan di depan TV. Hingga menjelang pukul 08.00, ketika aku sedang asyik melahap makananku, tiba-tiba aku merasakan seperti berada di ayunan. Awalnya aku pikir kepalaku yang pusing, namun goncangan itu semakin kuat. Gelas-gelas kaca yang digantung di rak mulai mengeluarkan suara gemerincingnya karena bersentuhan satu sama lain. Aku yang ketika itu berada di lantai 2 rumah langsung berlari menuju tangga dan turun dengan cepat. Di lantai bawah, Ibuku yang sedari tadi duduk di dekat dapur segera mengajakku lari keluar rumah. Di halaman rumah, kami duduk di tanah dan saling berpelukan sambil mengucap istighfar karena goncangan bumi yang semakin kuat. Ketika itu, aku merasa tanah di sekitarku itu akan segera roboh. Goncangan dashyat itu tidak berlangsung sesaat bila dibandingkan dengan degupan jantung ketakutan kami. Rasanya peristiwa hari itu seperti kiamat kecil. Lima belas menit kemudian, goncangan bumi itu pun mulai pelan dan berhenti. Kami kembali ke dalam rumah dan aku kembali menuju lantai 2 untuk melanjutkan kartun yang tadi sempat ku lewatkan serta menghabiskan sarapan yang masih tersisa. Tidak ada firasat lain, tidak ada pikiran akan goncangan susulan atau hal buruk lainnya karena biasanya fenomena alam itu terjadi begitu saja dan hilang dengan sendirinya. Jarang terjadi goncangan yang bertubi-tubi atau peristiwa buruk sesudahnya.

Tak lama setelah aku berada di depan TV, aku mendengar suara dentuman dari langit. Suara itu terdengar seperti suara yang timbul ketika ada awan mendung yang berwarna sangat gelap. Namun anehnya, langit di luar begitu cerah. Tidak ada tampak warna gelap sedikitpun. Suara itu berbunyi tiga kali berturut-turut. Beberapa saat setelah suara itu berhenti, aku mendengar begitu banyak suara klakson kendaraan bermotor yang saling bersahutan, seperti ada kemacetan di jalan. Penasaran dengan suara tersebut, aku segera melangkah menuju teras depan di lantai 2 untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di jalan sana. Masha Allah, begitu ramai orang di jalan mirip seperti acara pawai/karnaval. Namun, di antara keramaian suara klakson itu sesekali terdengar suara orang-orang yang berteriak agar orang yang di depannya cepat bergerak. Mereka seperti peserta lomba lari yang beradu kecepatan. Tidak banyak informasi yang ku peroleh dari pengamatan itu, hingga akhirnya ada beberapa orang yang lewat di depan rumahku dan berkata, “Air laut naik..!!” Ketika itu aku berpikir air laut yang mereka maksud itu adalah air pasang yang lazim terjadi ketika bulan purnama. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang baru kembali dari pantai di daerah kota mengatakan bahwa seluruh kota sudah terendam air hingga ke atap gedung. Aku yang ketika itu masih berusia 13 tahun menganggap bahwa naiknya air laut itu adalah hal yang menyenangkan. Maklum, dari dulu rumahku langganan banjir setiap tahunnya dan sebagaimana diketahui bahwa air banjir itu kotor. Jadi, aku sempat berandai-andai suatu saat akan ada banjir air bersih sebersih warna air laut sehingga ketika mereka mengatakan bahwa air laut naik, aku bukannya takut melainkan senang karena impianku berenang di air yang bersih akan segera terwujud (*obsesi punya kolam renang pribadi sih sebenarnya..hehehe). Namun imajinasiku seketika buyar ketika aku melihat kaki orang-orang yang berlarian dari arah pantai berwarna hitam legam seperti warna lumpur yang keluar ketika mengebor sumur. Sudahlah warnanya seperti itu, baunya juga tidak kalah menusuk. Terakhir ku tahu itu adalah bau belerang yang berasal dari letusan gunung di bawah laut. Mungkin letusan inilah yang tadinya ku dengar seperti suara mendung. Air hitam dan bau itu ternyata juga ditemukan pada jasad korban yang meninggal terbawa arus dan jika air itu sudah melekat di rambut akan sulit untuk dibersihkan karena rambut akan mengeras. Selain itu, jika air itu tertelan akan sangat berbahaya karena komponen di dalamnya bersifat racun bagi tubuh.

10649708_814998191891482_3071088463348995275_n

Minggu pagi di hari itu nyaris tak sama lagi seperti Minggu sebelumnya. Kota porak-poranda, mayat tergeletak dimana-mana, banyak orang mengungsi sambil menangis, listrik padam dan komunikasi terputus. Aku pun untuk pertama kalinya harus merasakan kehilangan sahabat yang meninggalkanku untuk selama-lamanya meski hingga kini jasadnya belum ditemukan. Entah ia sudah terkubur bersama di kuburan massal ataupun ia terdampar di belahan bumi lain. Tapi yang pasti, bagiku minggu pagi di hari itu sudah tak sama lagi.

Kisah Minggu pagi satu dekade yang lalu

[RayMaimun, 2014] 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s